Monrest berdiri mematung, pandangannya tajam menembus kabut pertarungan yang mulai mengendap. Wanita yang berdiri di hadapannya terlihat memiliki aura misterius, ranah kultivasinya tidak dapat dikenali namun Monrest dapat merasakan kekuatan wanita ini tak terukur. Dia memperhatikan lagi pasukan keluarga Baihuan yang terdiam dalam posisi bertahan, mereka terlihat tidak berani mendekat karena kultivasi mereka tidak mampu menahan serangan yang di keluarkan oleh para wanita misterius yang menyerang tempat mereka.

"Apa sebenarnya kekuatan mereka? Aku belum pernah melihat teknik dan kekuatan seperti ini, bahkan tidak ada di dunia surgawi... Jangan-jangan, mereka berasal dari dunia lain?" gumam Monrest dalam hati. Meski kekuatannya jauh melampaui tahap akhir kultivator abadi, instingnya berteriak bahwa musuh kali ini bukan lawan biasa. Bahaya yang mereka pancarkan membuat kulitnya merinding.

"Kekuatan mereka layak untuk pemanasan sebelum aku mulai menundukkan dimensi-dimensi lain dan membuat mereka bertekuk lutut kepadaku." batin Monrest sambil menyeringai kejam.

Qi spiritual di tubuhnya meledak, membentuk pusaran energi yang mengguncang udara di sekelilingnya. Aura gelap pekat mulai mengalir dari pori-porinya, memancarkan tekanan yang mampu membuat kultivator biasa langsung bertekuk lutut.

Di sisi lain, Mira memandang Monrest dengan mata menyipit. Senyumnya mengejek, tapi ada kecurigaan tersembunyi di balik ketenangan itu.

"Auranya... serasa tidak asing, aku pernah merasakannya. Jangan-jangan dia juga pernah berada di Pulau asing?" pikir Mira. Dia mengangkat tongkat kristalnya ke udara, lalu melafalkan mantra dalam bahasa asing yang membuat udara bergetar halus. Monrest tak mengenal bahasa itu, namun kekuatan yang terpancar jelas terasa asing dan berbahaya.

Tanpa perlu aba-aba, Monrest langsung menerjang, menghapus jarak di antara mereka secepat kilat.

Dua bayangan bergerak cepat, saling beradu di udara. Dentuman pertama mengguncang bumi, menggetarkan sisa-sisa bangunan keluarga Baihuan. Pilar-pilar batu runtuh, langit memekik seolah disayat, dan suara ledakan menggelegar memekakkan telinga.

Mira melayang di angkasa, tongkatnya menari di udara. Mantra-mantra bercahaya melingkari tubuhnya, membentuk formasi sihir pertahanan sekaligus menyerang.

"Terimalah ini, kau bangkai tua." katanya ringan dengan nada mengejek, lalu mengarahkan tongkatnya ke tubuh Monrest.

Puluhan tombak bayangan meledak dari langit, mengarah dari segala penjuru. Namun Monrest tidak bergeming. Dengan satu ayunan telapak tangan yang dilapisi aura keemasan, dia menghancurkan sebagian besar tombak itu lalu menghilang dari pandangan.

Tinju Monrest menghantam tubuh Mira, namun tak menimbulkan luka. Sebuah perisai jiwa melindungi tubuh wanita itu. Seketika itu juga, energi pukulan itu terpantul kembali, menghantam Monrest hingga tubuhnya terpental ke belakang.

"Hahaha... Hajar dia, Nyonya. Pria tua ini harus tahu sedang berhadapan dengan siapa." suara Sari terdengar santai, berdiri angkuh di atas atap sambil tersenyum tipis.

"Kalian semua sebaiknya menyerah saja. Nyonya kami mampu memberimu kehidupan abadi tanpa harus bersusah payah berkultivasi." seru Rina, lalu melemparkan tubuh salah satu kultivator lawan ke tanah bagaikan sampah.

Rina, Sari, Dita, dan Lila kini duduk santai di tiap sudut atap bangunan, menyaksikan pertempuran dengan sorot mata tajam. Mereka terlihat santai, namun bukan berarti lengah. Posisi mereka saat ini adalah bagian dari formasi sihir rahasia. Jika Mira dalam bahaya, mereka akan segera bergerak.

Para kultivator keluarga Baihuan hanya bisa menatap dengan waspada. Aura keempat wanita itu menggetarkan jiwa mereka. Tak seorang pun berani bergerak sembarangan karena khawatir dengan kekuatan mengerikan milik mereka.

Monrest perlahan berdiri. Bibirnya melengkung membentuk senyum menghina. "Cukup sudah permainan ini. Kalian pikir bisa menandingiku? Tidak ada kekuatan yang bisa menantang kekuatan mutlak."

Aura hitam mulai membara di sekeliling tubuh Monrest. Energi spiritualnya berubah menyerupai api iblis yang mengerikan, melapisi seluruh tubuh Monrest.

Dia menatap ke arah keempat wanita yang tersebar di atap-atap. "Mereka memang jauh lebih kuat dari yang kuduga. Tapi itu tak penting lagi." pikirnya. Awalnya ia berniat membiarkan mereka hidup demi informasi tentang fragmen senjata iblis. Tapi melihat kekuatan mereka, ia mulai mempertimbangkan ulang.

Mira memperhatikan perubahan aura Monrest dengan mata membelalak. "Itu... energi iblis? Bagaimana mungkin dia memilikinya? Mungkinkah energi ini berasal dari fragmen senjata iblis yang di bawanya."

"Serahkan fragmen senjata iblis itu. Lakukan sekarang atau aku akan merobek jiwamu," ujar Mira dingin. Dia menggigit jarinya, darah segar mengalir dan mengenai tongkat kristalnya.

"Api Pemurnian, bangkitlah!" teriaknya.

Puluhan portal kecil terbuka di langit. Semburan api ungu mengalir deras, menyerang Monrest dari segala penjuru. Api itu bukan hanya melukai tubuh, tapi juga menyiksa jiwa. Namun Monrest hanya berdiri diam, tubuhnya dilindungi oleh kabut hitam pekat yang menelan semua api masuk. Dalam sekejap, serangan Mira lenyap ditelan kegelapan.

Tiba-tiba Monrest menghilang dari tempatnya dan muncul di belakang Sari yang masih duduk santai. Dia melesat untuk menghancurkan satu per satu pengikut Mira. Sari melompat, melepaskan kutukan es yang melingkari udara, tapi gerakannya terlambat. Tubuh Monrest membeku sesaat, namun kabut iblis langsung menghancurkannya. Tendangan keras menghantam Sari dan melemparkannya ke tanah.

DUARRR!!!

Suara ledakan mengguncang bumi saat tubuh Sari menghantam tanah. Monrest segera beralih menuju Rina yang duduk santai dengan aura hitam melapisi tubuhnya. Merasakan serangan dari Monrest, bayangan hitam bergerak melindungi tubuh gadis itu, namun serangannya dipatahkan dengan mudah. Serangan Monrest hampir mengenai Rina, ketika tiba-tiba...

"Berhenti! Dasar tua bangka, kau pikir bisa seenaknya menyakiti saudari-saudariku?" suara Mira menggema seperti petir di langit malam.

Ia mengayunkan tongkatnya, darah di ujung jari yang digigitnya menetes, lalu berubah menjadi kabut ungu yang menyelimuti seluruh area pertempuran.

Monrest berhenti dan melangkah mundur. "Apa ini?"

"Domain-ku." bisik Mira. Sekeliling mereka berubah drastis. Pohon-pohon raksasa muncul dari kabut. Langit menjelma menjadi lorong pusaran cahaya dan bayangan. Dalam domain ini, kekuatan Mira melampaui batas biasa. Dia menguasai segala yang berada di dalamnya.

Sebagai kultivator abadi, kegelapan bukan halangan bagi Monrest. Namun di tempat ini, dia tak lagi bisa merasakan keberadaan Rina yang berdiri tepat di sampingnya. Panca inderanya dibutakan.

Mira muncul di belakangnya, tongkatnya diayunkan dengan kekuatan penuh. "Chain of Silent Wounds!"

Rantai tak terlihat membelit tubuh Monrest, melukai jiwanya dari dalam. Pria itu meraung, lututnya menghantam tanah. Tapi Mira tahu ini belum cukup.

Dia kembali merapal mantra.

Ledakan halus mengguncang jiwa Monrest. Aura di tubuhnya kacau, darah muncrat dari mulutnya. Mira bersiap memberi serangan akhir, tapi…

Tiba-tiba dada Monrest bersinar terang. Fragmen senjata iblis yang menyatu di tubuhnya aktif. Suara dentingan aneh memenuhi udara, lalu domain sihir Mira mulai retak.

Rantai sihir hancur, kabut ungu buyar. Monrest perlahan bangkit, darah mengalir dari mulutnya, namun matanya bersinar dengan kegilaan.

Di tempat lain, empat fragmen senjata iblis yang Mira sembunyikan dalam dimensi kristalnya mulai bereaksi. Mereka beresonansi dengan fragment yang ada di dalam tubuh Monrest.

Mira terbelalak. "Tidak… ini tidak mungkin! Bagaimana mereka bisa beresonansi... Dia bisa menembus dimensi sihirku?!"

Sari, Dita, Rina, dan Lila tiba-tiba berteriak kesakitan. Segel formasi yang menghubungkan mereka dengan fragmen iblis menyerang balik. Urat-urat sihir mereka memanas, lalu menghantam tubuh mereka dari dalam.

"Aaaarrgghh!!" teriakan mereka mengguncang langit.

Mira tak punya pilihan. Dengan satu mantra, dia mengubah tubuh mereka menjadi cahaya lalu melesat ke langit, menghilang dari pandangan.

Monrest mengerang, lalu menatap ke langit. "Kabur..."

Seorang tetua mendekatinya. "Ketua... mereka melarikan diri."

"Mereka bisa melarikan diri... tapi tidak bisa bersembunyi. Empat fragmen ada bersama mereka. Dan sekarang, fragmen di tubuhku telah menyatu. Dimanapun mereka berada, aku bisa menemukannya." ucap Monrest dengan suara berat.

Dia tidak mengejar mereka. Belum saatnya. Monrest tahu, ketika matahari ditelan bayangan bulan, saat itulah senjata iblis akan bangkit sempurna. Ia akan menjadi satu dengan kekuatan itu.

Dia menatap reruntuhan halaman Baihuan, angin malam menghempas jubahnya yang robek.

"Tak lama lagi... saat hari itu tiba, aku akan menuntaskan segalanya." bisiknya dengan suara dingin dan mata menyala penuh kebencian.

